JEJAK SIAPAKAH
Jejak siapakah yang menggeliat di angin. Yang jari-jarinya
mengapung di langit memainkan piano bagai seorang ibu yang
meraba dadanya dalam kesejukan etalase plaza di tengah
ribuan impian. Walau mimpi orang-orang lusuh tersesat di
selokan merebut tetesan darah yang dicetak tebal pada
halaman muka surat-surat kabar
Jejak siapakah yang menari di daun-daun mencari kumbang
walau seribu kembang diam dengan seribu mata jadi danau
menenggelamkan impian para budak yang mencari tawa di
kantong-kantong majikan. Sehingga ribuan impian tumpah
di jalan-jalan.
Jejak siapakah yang menangis di tali-tali gitar, ketika seorang
tua dengan jemari tua memetik embun walau burung tak
berkicau hingga meneteskan keringatnya
Enok, 6 Sep 2003
TELAH KU TAMBATKAN PERAHU
Telah ku tambatkan perahu di tikam jantung
orang-orang patung
mengisyaratkan kelelahan
sampai tepuk tangan guntingan pita pingsan
dengan parfum import dari kursi
kemunafikan
padahal di sudut-sudut bandar
malam tertidur
dengan map dan surat-surat lamaran
Telah ku tambatkan perahu pada gulungan mimpi
yang singgah pada secawan kopi
dengan sebuah keranjang dan sebilah belati
untuk membunuh sepi
Enok, 13 Nop 2003
SEPASANG TEROMPAH
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
kini rapuh berdebu menunggu jejak kita
yang ditinggalkan peziarah mengusung deritanya
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
bagai seorang remaja merenung gadisnya
menemukan mimpi yang tak habis-habis
membangun kemegahan
yang tersengal dalam derita
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
pucat bagai bibirmu - gelisah diusik dongeng
kearifan topeng yang mencemburui warna
pada bingkai kaca. Tempat kita berdarah
di dalamnya
Tembilahan, April 2004
DARI BAYANGANMU
Dari bayanganmu ku temukan kanak-kanak berlarian
memetik bunga-bunga teratai dan melemparkan wanginya
pada selimut angin yang bersimpuh di ambang pintu
sementara kau membiarkan segelas susu tumpah di telapak
tanganmu
Dari bayanganmu ku temukan abad-abad berlarian
dalam labu waktu. Meringsut melintas senja dari masa silam
yang kandas di lambung ibunya
Dari bayanganmu ku lihat perahu
meninggalkan serapah dermaga tanpa lambaian
Batam, 8 Oktober 2003
BAGAI HUJAN RINAI
Bagai hujan rinai, tanganmu memetik sebuah flat sunyi
rebahkan sebuah mimpi yang terperangkap di dalamnya
sementara kita berburu waktu dalam bingkai warna
hingga bayangan memanjang lewat lampu yang ngantuk
kamar dan ranjang pun gelisah. Berdarah
Bagai hujan rinai, tanganmu memetik sebuah flat sunyi
sebuah negeri yang kata dan warna
melahirkan malam-malam bisu. Sampai badai amuk mengilau
karang. Menggurindami rindu
Bagai hujan rinai, sebuah mimpi meninggalkan negeri
kita di dalamnya mengutip kata
menyisakan warna
Batam, 10 Okt 2003
Hafney Maulana, lahir di Sungai Luar, Inhil, Riau, 1965. Mengikuti berbagai kegiatan sastra
nasional maupun daerah. Sajak-sajaknya telah di publikasikan diberbagai media massa dan juga
telah diterbitkan dalam berbagai antologi, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, 1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (Angkasa/KSI, 1997), Amsal Sebuah Patung (Yayasan Gunungan, 1997), Puisi Makam (P2BKM Unri, 1999), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Air Mata 1824 (Yayasan Pusaka Riau, 2000), Dari Raja Ali Haji ke Indragiri (Panggung Melayu, 2007) dan beberapa antologi puisi lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar