Sabtu, 12 Desember 2009

TERTUNDUK, MENGUTIF MAKNA KEHADIRAN

Oleh: Harta Pinem

   Manusia seharusnya bersyukur, karena di tengah perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan ekonomi dan iptek, para penyair masih tetap lahir dan abadi untuk mengevaluasi kondisi.
   Tujuan tentu saja untuk menegur dan meningkatkan kualitas manusia, agar jangan terbuai dan tenggelam dalam perubahan nilai-nilai hidup material secara berlebihan dan agar manusia selalu berupaya menjaga keseimbangan  alam, budaya dan perkembangan alam, budaya dan perkembangan industri. Terserah bagaimana ceranya untuk mencapai tujuann itu, sebab perjuangan penyair secara formalis, hanya sebatas dunia kata. Tergantung bagaimana dan sejauh mana penapsiran pembaca terhadap dunia kata yang disodorkan penyair lewat sajak-sajaknya.
   "Kata" bagi penyair bukan sekedar dunia lain. Sebaliknya telah ditiupkan jiwa atau ruh untuk bisa berintraksi dengan dunia pembaca, tentu saja lewat bahasa simbolik, khas penyair.
   Kumpulan sajak Hafney Maulana 'Mengutip Makna Tamasya Purba' paling tidak juga berusaha menjelajahi berbagai kemungkinan cara pemakai kehidupan yang berimbang itu. Sebab kehidupan yang dipenuhi materi tidak akan mengantarkan manusia kedalam pembaringan bahagia, sebaliknya jadi baut dari mesin rutinitas manusia yang melangkah ke situasi kejenuhan.
   "dan akhirnya adalah kejenuhan/ketika kita jadi mesin rutinitas/berjalan tanpa kepala-mata hanya/warna warni tak bermakna/peradaban haanya tradisi yang tersimpan di lemari besi/ kita tak punya jati diri. menjengkal bumi/mengutip-ngutip mimpi (Sajak "Kejenuhan")
   Sajak ini kemudian diakhiri dengan sebuah pertanyaan bersifat retroris, yang berkesan ironis,'inikah kita orang-orang manusia?'. Tentu saja penyair membedakan  manusia dengan makna semiotik 'orang' sebagai robot tanpa jiwa dengan manusia sejati yang berjiwa (manusia) yang kaya dan karenanya mistreri. Ketika keotentikan manusia telah dihilangkan, bagi penyair tinggal mesin rutinitas.
***
   Kecenderungan pengucapan sajak para penyair terkini pada pemilihan diksi dan metafor industrialis. Hafney Maulana justru tetap berupaya mencari sisi-sisi lain, dari kekuatan metafor tradisi alam, dalam hal ini tradisi melayu Riau. Hafney sadar ruang dan diri; bahwa hidup harus tetap dijalani, meski perih, tetap tersirat dalam sajak sajaknya, misalnya dalam sajak "Hari-hari". Sebagai penutup tulisan ini " hari-hari adalah air mata yang berlari/merambah segala bukit segala lembah/meninggalkan jejak, angin dan ombak/ hari bagai balon melambung tinggi/kemudian jatuh tersangkut ranting/rebah tersungkur ke bumi/jadi mayat, jadi bangkai jadi tanah/jadi debu
***
Penggiat Forum Sastra Medan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar