Puisi: Hafney Maulana
Istana kaca yang kau tinggalkan melantunkan melodi yang bermandikan muram terperangkap antara batu-batu terjal. Kini hanya rumah kecil tempat putri rimba mengulur salam. ”Inilah rumah kita, tempat menghitung tawa,” katamu. Alangkah mahal mimpimu, bermain dengan musim penantian setelah mengulur salam, helaan nafasmu mendedahkan diri dari matahari yang telah jadi bingkai pintumu. ”Tempatkanlah hidup ini semestinya,” ujarmu. Maka tangan-tangan yang menggenggam cinta akan memasangkan mahkota seraya menyanyikan mantra dan doa-doa
Dari riwayat hidup yang kita risalahkan, tumbuh beribu-ribu impian, menangkap cinta dari kesejukan jemarimu yang menyimpan firdaus tempat putri rimba menggeliat dikesejukan dentingan melati yang kau sisipkan pada rambutmu, yang kau jadikan pengasihan dalam perjalanan panjangku.
Sastra Mandiri, Tembilahan: 24/9/10

Tidak ada komentar:
Posting Komentar