Puisi: Hafney Maulana
Istana kaca yang kau tinggalkan melantunkan melodi yang bermandikan muram terperangkap antara batu-batu terjal. Kini hanya rumah kecil tempat putri rimba mengulur salam. ”Inilah rumah kita, tempat menghitung tawa,” katamu. Alangkah mahal mimpimu, bermain dengan musim penantian setelah mengulur salam, helaan nafasmu mendedahkan diri dari matahari yang telah jadi bingkai pintumu. ”Tempatkanlah hidup ini semestinya,” ujarmu. Maka tangan-tangan yang menggenggam cinta akan memasangkan mahkota seraya menyanyikan mantra dan doa-doa
Dari riwayat hidup yang kita risalahkan, tumbuh beribu-ribu impian, menangkap cinta dari kesejukan jemarimu yang menyimpan firdaus tempat putri rimba menggeliat dikesejukan dentingan melati yang kau sisipkan pada rambutmu, yang kau jadikan pengasihan dalam perjalanan panjangku.
Sastra Mandiri, Tembilahan: 24/9/10
ALIF awal aksara
Setitik Tinta, Secerbis Bicara
Minggu, 26 September 2010
Jumat, 09 Juli 2010
REBAHLAH PADA TANGAN YANG MENGGENGGAM SUNYI
suara gendrang rumput menyelinap
antara tumpukan kabut
menunda igauan pada kelender yang berabad-abad
menunggu usia
membiaskan bau tanah dimana matahari
telah jadi bingkai pintuku
aku tersesat dalam sunyi
fatamorgana antara kata dan kelam purnama
; tempatkanlah hidup ini semestinya, ujarmu
kita berziarah antara ranjang dan jangkrik malam
dimana kesunyian adalah burung hantu
yang menunggu
aku mengembara mendulang mimpi
nyanyikan erangan ribuan kepala
yang mengulas bibir dengan deritanya
; mestinya sepasang mimpi kita bertasbih
sebab kita akan mengepungnya dengan doa, ujarmu
inilah hidup yang tak pernah mati
menyalakan serbuk cinta
maka rebahlah pada tangan yang menggenggam sunyi
dalam gemuruh ilalang
dan daun yang bernyanyi
antara tumpukan kabut
menunda igauan pada kelender yang berabad-abad
menunggu usia
membiaskan bau tanah dimana matahari
telah jadi bingkai pintuku
aku tersesat dalam sunyi
fatamorgana antara kata dan kelam purnama
; tempatkanlah hidup ini semestinya, ujarmu
kita berziarah antara ranjang dan jangkrik malam
dimana kesunyian adalah burung hantu
yang menunggu
aku mengembara mendulang mimpi
nyanyikan erangan ribuan kepala
yang mengulas bibir dengan deritanya
; mestinya sepasang mimpi kita bertasbih
sebab kita akan mengepungnya dengan doa, ujarmu
inilah hidup yang tak pernah mati
menyalakan serbuk cinta
maka rebahlah pada tangan yang menggenggam sunyi
dalam gemuruh ilalang
dan daun yang bernyanyi
NYANYIAN GELANDANGAN
Rambutmu yang berkibar dalam gelombang taman purbani
Menari dalam lingkaran cahaya bernyanyi. Ada ruang sunyi
Dalam puing api di negeri sendiri
Hari-harimu membangun biografi duri abadi
Mencadai gerimis dalam dendang tanah ini
Saling meremas ketelanjangan diri. Dingin ditinggal sepi
Wajahmu seperti dentingan kecapi
Membelah mimpi dengan jemari.
Menggumpal tanah persengketaan bumi.
Kau tumpas segala nyeri
Walau belum kau pahami. Kemanusiaan zaman ini
Cuma kursi, syahwat dan dasi
Sastra Mandiri, tbh: 9-7-2010
Menari dalam lingkaran cahaya bernyanyi. Ada ruang sunyi
Dalam puing api di negeri sendiri
Hari-harimu membangun biografi duri abadi
Mencadai gerimis dalam dendang tanah ini
Saling meremas ketelanjangan diri. Dingin ditinggal sepi
Wajahmu seperti dentingan kecapi
Membelah mimpi dengan jemari.
Menggumpal tanah persengketaan bumi.
Kau tumpas segala nyeri
Walau belum kau pahami. Kemanusiaan zaman ini
Cuma kursi, syahwat dan dasi
Sastra Mandiri, tbh: 9-7-2010
SEPI TIADA HENTI
Seperti tiang listrik yang gemetar di ujung malam. Kau biarkan mimpimu kembara. Melelehkan kenangan dalam dada. Dalam dada.
Demikian deras arus sungai hatimu. Kesedihan kau simpan. Dimanakah?
Kau tahu, tak ada airmata kutemukan. Bagai lukisan yang pecah berderai, menyepih jam, menyepih hari. Impian demi impian berlompatan, seperti anak-anak kijang melihat sehunus pisau.
Mungkinkah diingat lagi?
Apa yang akan kukatakan padamu. Bila bulan tak henti tanya, karena musim tak hendak menunggu.
Tak ada yang dapat dicatat pada pucat dinding, pada kanvas usang. Hanya sepi tiada henti.
Sastra Mandiri, tbh: 7-7-2010
Demikian deras arus sungai hatimu. Kesedihan kau simpan. Dimanakah?
Kau tahu, tak ada airmata kutemukan. Bagai lukisan yang pecah berderai, menyepih jam, menyepih hari. Impian demi impian berlompatan, seperti anak-anak kijang melihat sehunus pisau.
Mungkinkah diingat lagi?
Apa yang akan kukatakan padamu. Bila bulan tak henti tanya, karena musim tak hendak menunggu.
Tak ada yang dapat dicatat pada pucat dinding, pada kanvas usang. Hanya sepi tiada henti.
Sastra Mandiri, tbh: 7-7-2010
ADA JERIT KETIKA PINTU TERBUKA
Ada jerit ketika pintu dibuka
Engsel-engsel berkarat. Sebuah rumah sunyi
Cuma tangis, kelaparan menyambut pagi tiba
Beginilah. Ada langit tanpa cahaya. Jam hanya batas usia
Mengekalkan kesunyian. Menyanyikan erangan.
Mendengkurkan rintihan
Peradaban hanya burung hantu yang menunggu
Sastra Mandiri, tbh: 8-7-2010
Engsel-engsel berkarat. Sebuah rumah sunyi
Cuma tangis, kelaparan menyambut pagi tiba
Beginilah. Ada langit tanpa cahaya. Jam hanya batas usia
Mengekalkan kesunyian. Menyanyikan erangan.
Mendengkurkan rintihan
Peradaban hanya burung hantu yang menunggu
Sastra Mandiri, tbh: 8-7-2010
Minggu, 16 Mei 2010
Senin, 29 Maret 2010
Langganan:
Komentar (Atom)






