Sajak: Hafney Maulana
I hear the rumble of the voice
Buried for centurries
In the sweat that flowed down from the top of Borobudur
Where birth and death and life
Are recorded in the long sculpled galleries
I hear the rumble of the voice
Of wounded history
In its own language it speaks:
'Oh my children! Hear me!
Do not bury my sweat in time machines
Let it fly away with Arjuna's bow
Forging a path through the sky'
Century after century Borobudur
Has taken in birth and death
Accommodating all joy and sorrow
So together with the many kinds of incence there
Let us place love, loyalty, courage
And determination
On its breast
(ditejemahkan ke Bahasa Inggeris oleh Helen Creese, Australia)
Kamis, 17 Desember 2009
Sabtu, 12 Desember 2009
TERTUNDUK, MENGUTIF MAKNA KEHADIRAN
Oleh: Harta Pinem
Manusia seharusnya bersyukur, karena di tengah perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan ekonomi dan iptek, para penyair masih tetap lahir dan abadi untuk mengevaluasi kondisi.
Tujuan tentu saja untuk menegur dan meningkatkan kualitas manusia, agar jangan terbuai dan tenggelam dalam perubahan nilai-nilai hidup material secara berlebihan dan agar manusia selalu berupaya menjaga keseimbangan alam, budaya dan perkembangan alam, budaya dan perkembangan industri. Terserah bagaimana ceranya untuk mencapai tujuann itu, sebab perjuangan penyair secara formalis, hanya sebatas dunia kata. Tergantung bagaimana dan sejauh mana penapsiran pembaca terhadap dunia kata yang disodorkan penyair lewat sajak-sajaknya.
"Kata" bagi penyair bukan sekedar dunia lain. Sebaliknya telah ditiupkan jiwa atau ruh untuk bisa berintraksi dengan dunia pembaca, tentu saja lewat bahasa simbolik, khas penyair.
Kumpulan sajak Hafney Maulana 'Mengutip Makna Tamasya Purba' paling tidak juga berusaha menjelajahi berbagai kemungkinan cara pemakai kehidupan yang berimbang itu. Sebab kehidupan yang dipenuhi materi tidak akan mengantarkan manusia kedalam pembaringan bahagia, sebaliknya jadi baut dari mesin rutinitas manusia yang melangkah ke situasi kejenuhan.
"dan akhirnya adalah kejenuhan/ketika kita jadi mesin rutinitas/berjalan tanpa kepala-mata hanya/warna warni tak bermakna/peradaban haanya tradisi yang tersimpan di lemari besi/ kita tak punya jati diri. menjengkal bumi/mengutip-ngutip mimpi (Sajak "Kejenuhan")
Sajak ini kemudian diakhiri dengan sebuah pertanyaan bersifat retroris, yang berkesan ironis,'inikah kita orang-orang manusia?'. Tentu saja penyair membedakan manusia dengan makna semiotik 'orang' sebagai robot tanpa jiwa dengan manusia sejati yang berjiwa (manusia) yang kaya dan karenanya mistreri. Ketika keotentikan manusia telah dihilangkan, bagi penyair tinggal mesin rutinitas.
***
Kecenderungan pengucapan sajak para penyair terkini pada pemilihan diksi dan metafor industrialis. Hafney Maulana justru tetap berupaya mencari sisi-sisi lain, dari kekuatan metafor tradisi alam, dalam hal ini tradisi melayu Riau. Hafney sadar ruang dan diri; bahwa hidup harus tetap dijalani, meski perih, tetap tersirat dalam sajak sajaknya, misalnya dalam sajak "Hari-hari". Sebagai penutup tulisan ini " hari-hari adalah air mata yang berlari/merambah segala bukit segala lembah/meninggalkan jejak, angin dan ombak/ hari bagai balon melambung tinggi/kemudian jatuh tersangkut ranting/rebah tersungkur ke bumi/jadi mayat, jadi bangkai jadi tanah/jadi debu
***
Penggiat Forum Sastra Medan
Selasa, 08 Desember 2009
ZIARAH
Sajak: Hafney Maulana
ku datang padaMu
mencari embun antara deru
mesin pabrik
luka-lukaku, kubalut dengan sejadah
dalam sujud
di mana hudhud
hinggap di pundakku
dengan paruh bismillahnya
ia bentangkan jalan
shiratalmustaqim
dari lembah ke lembah aku merangkak
di atas bukit kenyataan
di mana tubuhku
adalah perlawanan
yang disamarkan
semakin samar
kubasuh wajahku dengan embun
di mawar yang Kau hidupkan
antara api Nimrod
mengukir zarrah
dari noktah zikir yang mengalir
dalam darah
mata-mata ikan
hingga mengkristal
jadi tasbih.
Minggu, 06 Desember 2009
BIODATAKU

Hafney Maulana, lahir tahun 1965 , Kab. Indragiri Hilir, Riau. Aktif dalam berbagai kegiatan sastra dan kebudayaan daerah maupun nasional. Pada tahun 1995 bersama T.S Basirun, T.M. Sum dan Ade Darmawi menggelar Syair Khabar Kiamat karya Tuan Guru K.H. Abdurrahman Sidik di Teater Arena Pekanbaru. Mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 di Taman Ismail Marzuki Jakarta tahun 1996, Temu Penyair se-Sumatera tahun 1997 di Pekanbaru, Perkampungan budaya Pulau Rupat (Perkampungan Penulis Riau dan GAPENA Malaysia) tahun 1997, Pertemuan sastrawan Nusantara (PSN) IX dan Pertemuan Sastrawan Indonesia (PSI) di Kayu Tanam – Sumatera Barat tahun 1997, Perkampungan Penulis Melayu Serumpun ( Indonesia, Malaysia, singapura, Berunai, Thailand ) di Daik Lingga tahun 1999, Kenduri Seni melayu ( Malay Arts Colebration) di Batam tahun 1999, Dialog Rempang ( Perkampungan penulis Rantau Melayu ( Riau, Malaysia, singapura, Berunai, Thailand dan Filipina ) tahun 2000 di pulau Rempang, Batam. Gerak Gemilang I tahun 2005 dan Gerak Gemilang II tahun 2006 di Tembilahan, dan lain-lain.
Karya puisi, cerpen dan artikel budayanya telah dimuat diberbagai media massa daerah maupun nasional dan berbagai antologi antara lain: Antologi Puisi Kemah Seniman di Surakarta (1996), Antologi Puisi Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, Jakarta 1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (KSI dan Angkasa Bandung, 1997), Amsal sebuah Patung (Yayasan Gunungan, Yogyakarta, 1997), Antologi Puisi Makam (pusat Pengkajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu, Universitas Riau, Pekanbaru 1999), Antologi Puisi Jazirah Luka (Unri Pres, Pekanbaru 1999), Air Mata 1824 (Yayasan Pusaka Riau, Pekanbaru 2000), Resonansi Indonesia – Puisi dua bahasa Indonesia dan Mandarin (KSI, Jakarta 2000), Asia Throug Asian Eyes (CD-ROOM, Currikulum Corporation, Australia 2001), dan beberapa antologi lainnya. Puisi-puisinya telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dan Mandarin.
Kumpulan Puisi tunggalnya terkumpul dalam: Usia Yang Tertinggal (Batam Grafiti, 1996), Jajak-Jejak Waktu (Dokumentasi Sastra Mandiri, 2005), Mengutip Makna Tamasya Purba (KBP, 2005). Kumpulan Puisinya yang terbaru berjudul : Dari Raja Ali Haji Ke Indragiri ( Panggung Melayu, Jakarta 2008
Sajak-Sajak Hafney Maulana
JEJAK SIAPAKAH
Jejak siapakah yang menggeliat di angin. Yang jari-jarinya
mengapung di langit memainkan piano bagai seorang ibu yang
meraba dadanya dalam kesejukan etalase plaza di tengah
ribuan impian. Walau mimpi orang-orang lusuh tersesat di
selokan merebut tetesan darah yang dicetak tebal pada
halaman muka surat-surat kabar
Jejak siapakah yang menari di daun-daun mencari kumbang
walau seribu kembang diam dengan seribu mata jadi danau
menenggelamkan impian para budak yang mencari tawa di
kantong-kantong majikan. Sehingga ribuan impian tumpah
di jalan-jalan.
Jejak siapakah yang menangis di tali-tali gitar, ketika seorang
tua dengan jemari tua memetik embun walau burung tak
berkicau hingga meneteskan keringatnya
Enok, 6 Sep 2003
TELAH KU TAMBATKAN PERAHU
Telah ku tambatkan perahu di tikam jantung
orang-orang patung
mengisyaratkan kelelahan
sampai tepuk tangan guntingan pita pingsan
dengan parfum import dari kursi
kemunafikan
padahal di sudut-sudut bandar
malam tertidur
dengan map dan surat-surat lamaran
Telah ku tambatkan perahu pada gulungan mimpi
yang singgah pada secawan kopi
dengan sebuah keranjang dan sebilah belati
untuk membunuh sepi
Enok, 13 Nop 2003
SEPASANG TEROMPAH
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
kini rapuh berdebu menunggu jejak kita
yang ditinggalkan peziarah mengusung deritanya
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
bagai seorang remaja merenung gadisnya
menemukan mimpi yang tak habis-habis
membangun kemegahan
yang tersengal dalam derita
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
pucat bagai bibirmu - gelisah diusik dongeng
kearifan topeng yang mencemburui warna
pada bingkai kaca. Tempat kita berdarah
di dalamnya
Tembilahan, April 2004
DARI BAYANGANMU
Dari bayanganmu ku temukan kanak-kanak berlarian
memetik bunga-bunga teratai dan melemparkan wanginya
pada selimut angin yang bersimpuh di ambang pintu
sementara kau membiarkan segelas susu tumpah di telapak
tanganmu
Dari bayanganmu ku temukan abad-abad berlarian
dalam labu waktu. Meringsut melintas senja dari masa silam
yang kandas di lambung ibunya
Dari bayanganmu ku lihat perahu
meninggalkan serapah dermaga tanpa lambaian
Batam, 8 Oktober 2003
BAGAI HUJAN RINAI
Bagai hujan rinai, tanganmu memetik sebuah flat sunyi
rebahkan sebuah mimpi yang terperangkap di dalamnya
sementara kita berburu waktu dalam bingkai warna
hingga bayangan memanjang lewat lampu yang ngantuk
kamar dan ranjang pun gelisah. Berdarah
Bagai hujan rinai, tanganmu memetik sebuah flat sunyi
sebuah negeri yang kata dan warna
melahirkan malam-malam bisu. Sampai badai amuk mengilau
karang. Menggurindami rindu
Bagai hujan rinai, sebuah mimpi meninggalkan negeri
kita di dalamnya mengutip kata
menyisakan warna
Batam, 10 Okt 2003
Hafney Maulana, lahir di Sungai Luar, Inhil, Riau, 1965. Mengikuti berbagai kegiatan sastra
nasional maupun daerah. Sajak-sajaknya telah di publikasikan diberbagai media massa dan juga
telah diterbitkan dalam berbagai antologi, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, 1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (Angkasa/KSI, 1997), Amsal Sebuah Patung (Yayasan Gunungan, 1997), Puisi Makam (P2BKM Unri, 1999), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Air Mata 1824 (Yayasan Pusaka Riau, 2000), Dari Raja Ali Haji ke Indragiri (Panggung Melayu, 2007) dan beberapa antologi puisi lainnya.
Jejak siapakah yang menggeliat di angin. Yang jari-jarinya
mengapung di langit memainkan piano bagai seorang ibu yang
meraba dadanya dalam kesejukan etalase plaza di tengah
ribuan impian. Walau mimpi orang-orang lusuh tersesat di
selokan merebut tetesan darah yang dicetak tebal pada
halaman muka surat-surat kabar
Jejak siapakah yang menari di daun-daun mencari kumbang
walau seribu kembang diam dengan seribu mata jadi danau
menenggelamkan impian para budak yang mencari tawa di
kantong-kantong majikan. Sehingga ribuan impian tumpah
di jalan-jalan.
Jejak siapakah yang menangis di tali-tali gitar, ketika seorang
tua dengan jemari tua memetik embun walau burung tak
berkicau hingga meneteskan keringatnya
Enok, 6 Sep 2003
TELAH KU TAMBATKAN PERAHU
Telah ku tambatkan perahu di tikam jantung
orang-orang patung
mengisyaratkan kelelahan
sampai tepuk tangan guntingan pita pingsan
dengan parfum import dari kursi
kemunafikan
padahal di sudut-sudut bandar
malam tertidur
dengan map dan surat-surat lamaran
Telah ku tambatkan perahu pada gulungan mimpi
yang singgah pada secawan kopi
dengan sebuah keranjang dan sebilah belati
untuk membunuh sepi
Enok, 13 Nop 2003
SEPASANG TEROMPAH
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
kini rapuh berdebu menunggu jejak kita
yang ditinggalkan peziarah mengusung deritanya
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
bagai seorang remaja merenung gadisnya
menemukan mimpi yang tak habis-habis
membangun kemegahan
yang tersengal dalam derita
Sepasang terompah yang kau pakai dulu
pucat bagai bibirmu - gelisah diusik dongeng
kearifan topeng yang mencemburui warna
pada bingkai kaca. Tempat kita berdarah
di dalamnya
Tembilahan, April 2004
DARI BAYANGANMU
Dari bayanganmu ku temukan kanak-kanak berlarian
memetik bunga-bunga teratai dan melemparkan wanginya
pada selimut angin yang bersimpuh di ambang pintu
sementara kau membiarkan segelas susu tumpah di telapak
tanganmu
Dari bayanganmu ku temukan abad-abad berlarian
dalam labu waktu. Meringsut melintas senja dari masa silam
yang kandas di lambung ibunya
Dari bayanganmu ku lihat perahu
meninggalkan serapah dermaga tanpa lambaian
Batam, 8 Oktober 2003
BAGAI HUJAN RINAI
Bagai hujan rinai, tanganmu memetik sebuah flat sunyi
rebahkan sebuah mimpi yang terperangkap di dalamnya
sementara kita berburu waktu dalam bingkai warna
hingga bayangan memanjang lewat lampu yang ngantuk
kamar dan ranjang pun gelisah. Berdarah
Bagai hujan rinai, tanganmu memetik sebuah flat sunyi
sebuah negeri yang kata dan warna
melahirkan malam-malam bisu. Sampai badai amuk mengilau
karang. Menggurindami rindu
Bagai hujan rinai, sebuah mimpi meninggalkan negeri
kita di dalamnya mengutip kata
menyisakan warna
Batam, 10 Okt 2003
Hafney Maulana, lahir di Sungai Luar, Inhil, Riau, 1965. Mengikuti berbagai kegiatan sastra
nasional maupun daerah. Sajak-sajaknya telah di publikasikan diberbagai media massa dan juga
telah diterbitkan dalam berbagai antologi, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, 1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (Angkasa/KSI, 1997), Amsal Sebuah Patung (Yayasan Gunungan, 1997), Puisi Makam (P2BKM Unri, 1999), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Air Mata 1824 (Yayasan Pusaka Riau, 2000), Dari Raja Ali Haji ke Indragiri (Panggung Melayu, 2007) dan beberapa antologi puisi lainnya.
Langganan:
Komentar (Atom)
