Jumat, 09 Juli 2010

REBAHLAH PADA TANGAN YANG MENGGENGGAM SUNYI

suara gendrang rumput menyelinap
antara tumpukan kabut
menunda igauan pada kelender yang berabad-abad
menunggu usia
membiaskan bau tanah dimana matahari
telah jadi bingkai pintuku

aku tersesat dalam sunyi
fatamorgana antara kata dan kelam purnama
; tempatkanlah hidup ini semestinya, ujarmu
kita berziarah antara ranjang dan jangkrik malam
dimana kesunyian adalah burung hantu
yang menunggu

aku mengembara mendulang mimpi
nyanyikan erangan ribuan kepala
yang mengulas bibir dengan deritanya
; mestinya sepasang mimpi kita bertasbih
sebab kita akan mengepungnya dengan doa, ujarmu
inilah hidup yang tak pernah mati
menyalakan serbuk cinta
maka rebahlah pada tangan yang menggenggam sunyi
dalam gemuruh ilalang
dan daun yang bernyanyi

1 komentar: